10 Pemain Asing Baru Ramaikan Industri Semen Nasional

479

10 Pemain Asing Baru Ramaikan Industri Semen Nasional

 

Produsen semen terbesar di Asia Tenggara, PT Semen Indonesia Tbk, dihadapkan pada tantangan yang sangat berat untuk bisa bersaing dengan kompetitor swasta dan asing di negeri sendiri.

Berdasarkan catatan Asosiasi Industri Semen Indonesia (ASI) perusahaan swasta dan asing saat ini menguasai 56 persen industri semen nasional, sedangkan sisanya 44 persen dipegang oleh dua BUMN semen, yakni Semen Indonesia dan SemenĀ  Baturaja.

Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia menjelaskan sejauh ini perseroan memang masih menjadi pemimpin pasar, baik di Indonesia maupun di kawasan Asean. Dia menyebutkan total produksi Smeen Indonesia di Asean sebesar 31,8 juta ton, di mana mayoritas atau 29,5 juta ton dihasilkan di dalam negeri dan sisanya 2,3 juta ton diproduksi di Vietnam.

Dengan total produksi 29,5 juta ton per tahun di dalam negeri, Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa di bawah bendera Semen Indonesia sejauh ini menguasai 41,2 persen pangsa pasar domestik. Membayangi di bawahnya adalah Indocement di bawah benedera HeidelbergCement, Jerman dengan total produksi 20,5 juta ton. Kemudian di urutan ketiga ada Holcim Indonesia sebesar 12,1 juta ton.

Menurut Agung, persaingan industri semen nasional akan semakin ketat ke depannya dengan masuknya 10 pemain baru yang akan membangun pabrik di sejumlah wilayah pada 2017. Adapun ke-10 pemain baru tersebut meliputi:

  1. Siam Cement (Thailand) di Sukabumi, Jawa Barat
  2. Semen Merah Putih (Wilmar Grup) di Banten, Jawa Barat
  3. Anhui Conch Cement (Tiongkok) di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Papua Barat
  4. Ultratech di Wonogiri, Jawa Tengah
  5. Semen Puger di Jawa Timur
  6. Semen Barru di Sulawesi Selatan
  7. Semen Panasia di Sulawesi Selatan
  8. Jui Shin Indonesia di Jawa Barat
  9. Semen Gombong di Jawa Tengah
  10. Semen Grobogan di Jawa Tengah

“Persaingan dengan asing sangat ketat dan yang terberat adalah bagaimana kita bisa efisiensi dan pada akhirnya kita bisa berkompetisi dengan mereka,” ujar Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia di Semarang, Sabtu (29/5).

Efisiensi yang dimaksud Agung antara lain memperketat belanja operasional dan belanja-belanja yang tidak terlalu prioritas. Alokasi belanja terbesar akan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui pembangunan pabrik baru di Rembang, Jawa Tengah. Pabrik senilai Rp 4,45 triliun direncanakan memiliki kapasitas 3 juta ton per tahun dan ditargetkan tuntas dibangun pad akuartal III 2016.

“Sejak awal kami sudah bertempur dengan asing. Jadi penting sekali proyek kami di RembangĀ  untuk menghadang pemain-pemain baru tadi,” ujar Agung.

Akuisisi Semen Baturaja

PT Semen Batu Raja, yang juga tercatat sebagai perusahaan milik negara, saat ini hanya menguasai 2,7 persen pangsa pasar Indonesia dengan tingkat produksi hanya 1,3 juta ton per tahun. Agung Wiharto menilai sebaiknya BUMN tersebut bergabung dengan PT Semen Indonesia untuk memperkuat posisi industri semen nasional di tengah persaingan yang semakin ketat dengan asing.

“Kalau menurut saya memang sebaiknya (Semen Batu Raja) bergabung,” katanya.

Wacana akuisisi Semen Baturaja oleh Semen Indonesia sebenarnya merupakan isu lama yang sudah didengungkan sejumlah pihak sejak beberapa tahun terakhir. Namun, wacana tersebut tak kunjung terealisasi karena mendapatkan penolakan dari sejumlah sejumlah penolakan, terutama sejumlah fraksi di DPR.

Agung Wiharto memperkirakan pada 2018-2020 akan ada tambahan pasokan semen yang cukup signifikan di dalam negeri dengan mulai beroperasinya 10 pemain baru tersebut. Kendati persaingan semakin ketat, Agung melihat prospek industri semen tetap cerah jika melihat kebutuhan infrastruktur baru yang cukup banyak di dalam negeri untuk beberapa tahun ke depan. (ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here